
Oleh: Dwi Taufan Hidayat
Kadang kita memandang seseorang yang tampak tenang dan tersenyum tanpa cela, lalu menyangka hidupnya lapang dan tanpa beban. Padahal bisa jadi, dalam diam ia sedang bergelut dengan badai yang tak terlihat mata. Di balik wajah yang tegar, sering tersembunyi luka, perjuangan, dan air mata yang hanya diketahui oleh Allah.
Tak semua kesedihan ditampakkan, tak semua kegundahan diceritakan. Banyak orang yang memilih diam bukan karena tidak merasakan apa-apa, melainkan karena telah terlalu sering merasa dan akhirnya terbiasa menyembunyikannya. Mereka tampak baik-baik saja, tetap ramah, tetap melayani, tetap berperan seperti biasa. Namun, di balik itu semua, ada badai yang sedang mereka hadapi sendirian.
Inilah mengapa Islam mengajarkan untuk tidak tergesa-gesa dalam menilai, tidak mudah menyimpulkan, apalagi menghakimi. Karena apa yang tampak di luar, sering kali tak menggambarkan keadaan hati seseorang.
Allah ﷻ berfirman:
﴿ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴾
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)
Ayat ini menjadi pelipur lara bagi jiwa-jiwa yang sedang menahan perih di balik senyum yang tetap mereka usahakan. Allah tidak menjanjikan hidup tanpa kesulitan, tetapi Dia berjanji akan hadirkan kemudahan bersama kesulitan itu. Bukan setelahnya, tetapi bersamanya.
Dan sering kali, orang-orang yang paling terlihat kuat, sejatinya sedang diuji dengan ujian paling berat. Mereka tidak meminta dikasihani, mereka hanya ingin dimengerti, dan lebih dari itu, mereka berharap bisa tetap istiqamah meski hatinya berkeping.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
“أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ”
“Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang semisal mereka, lalu yang semisalnya.” (HR. Tirmidzi no. 2398)
Hadis ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang di sisi Allah, maka ujian yang dihadapinya pun akan semakin berat. Maka jika kita melihat seseorang yang selalu terlihat sabar, bisa jadi itu karena ia sedang menapaki jalan panjang menuju derajat yang tinggi di sisi Tuhannya.
Badai dalam hati tidak selalu terlihat dari luar. Ada orang yang tetap menjalankan aktivitasnya, tetap menjadi pendengar yang baik, tetap menyemangati orang lain, padahal dalam hatinya ia sedang menangis tanpa suara. Ia tidak mengeluh, tidak menuntut dipahami, karena ia tahu Allah Maha Tahu dan itu cukup.
Dalam riwayat lain Rasulullah ﷺ bersabda:
“مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ”
“Barang siapa meringankan satu kesusahan seorang mukmin dari berbagai kesusahan dunia, maka Allah akan meringankan satu kesusahan darinya dari berbagai kesusahan pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 2699)
Ini menjadi pengingat agar kita lebih peka, lebih lembut dalam bersikap, dan lebih banyak berempati. Karena bisa jadi senyum seseorang hari ini hanyalah topeng dari luka yang belum sembuh. Maka jangan pernah menyepelekan kekuatan sapaan hangat, doa tulus, atau pelukan ikhlas, sebab kadang itu menjadi alasan seseorang bertahan satu hari lebih lama.
Jika kamu sedang menghadapi badai dalam hidupmu, dan merasa tidak ada seorang pun yang memahami, ketahuilah bahwa Allah selalu bersamamu. Tak ada air mata yang sia-sia jika ditumpahkan di hadapan-Nya. Tak ada lelah yang tak tercatat, tak ada sabar yang tak dibalas.
Allah ﷻ berfirman:
﴿ وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ ﴾
“Dan bersabarlah, dan kesabaranmu itu semata-mata karena pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 127)
Dan jika engkau merasa sendiri, yakinlah bahwa dalam kesendirian itu pun Allah bersamamu. Di saat kamu merasa tak ada lagi yang bisa diandalkan, Allah tetap menjadi tempatmu bersandar. Karena Dialah yang paling tahu setiap luka yang tak pernah kamu ucapkan.
Imam Ibnul Qayyim berkata:
“Seandainya bukan karena ujian, niscaya seorang hamba akan tertimpa penyakit ujub, takabbur, dan keras hati. Maka ujian adalah rahmat dalam bentuk lain.”
Karena itulah, kita diajarkan untuk tidak hanya bersyukur atas nikmat yang tampak menyenangkan, tetapi juga bersyukur atas ujian yang menjadikan kita lebih dekat kepada Allah. Sebab, tak jarang seseorang mengenal Allah justru dari luka yang tak bisa disembuhkan oleh siapa pun kecuali Dia.
Ketika kamu lelah, bukan berarti kamu lemah. Ketika kamu menangis, bukan berarti kamu kalah. Itu hanya tanda bahwa kamu manusia yang sedang belajar untuk kuat. Dan kekuatan sejati itu, bukan ketika kamu tak pernah jatuh, tetapi saat kamu selalu bangkit meski sudah berulang kali terjatuh.
Jangan malu mengakui bahwa kamu sedang lelah, sedang goyah, atau sedang tidak baik-baik saja. Karena di situlah awal dari penyembuhan. Dan percayalah, Allah tak akan pernah membiarkanmu sendirian.
﴿ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ﴾
“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40)
Semoga kita menjadi pribadi yang tidak mudah menghakimi, yang senantiasa menjaga lisan dan sikap terhadap siapa pun. Karena bisa jadi, di balik wajah yang terlihat baik-baik saja, seseorang sedang berjuang menghadapi badai yang tak pernah kita ketahui. Dan semoga kita pun diberi kekuatan oleh Allah untuk menghadapi badai kita masing-masing, dengan sabar, dengan tawakal, dan dengan terus percaya bahwa di balik badai, selalu ada pelangi yang menanti.
Wallahu a‘lam.








Tinggalkan komentar