Doa Untuk Kemudahan Hidup Sehari Hari

IJW

Oleh: Dwi Taufan Hidayat

HIDUP sering kali tidak bisa ditebak. Kadang lapang, kadang sempit. Kadang sehat, kadang sakit. Dalam pusaran ujian itulah manusia menemukan makna penghambaan. Doa yang sederhana namun dalam, seperti yang tertera dalam gambar, menyimpan harapan setiap insan: ingin dimudahkan, disehatkan, diberkahi, dan dilimpahi rezeki.

Yaa Allah sederhanakan kesulitanku, sehatkanlah badanku, berkahilah setiap langkah perjalananku serta lancarkanlah rezekiku.

Doa ini bukan sekadar rangkaian kalimat biasa, tapi sebuah permohonan yang mencerminkan kebutuhan paling mendasar manusia: agar hidup tak terlalu berat untuk dijalani. Dalam Al-Qur’an, Allah menjamin bahwa di balik setiap kesulitan, akan ada kemudahan.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al Insyirah: 5–6)

Betapa Allah menegaskan dua kali dalam dua ayat berurutan bahwa setiap kesulitan tidak pernah datang sendiri selalu ditemani oleh jalan keluar. Maka, memohon agar kesulitan disederhanakan adalah bentuk adab kepada-Nya. Kita tidak minta kesulitan itu dihapuskan, melainkan disederhanakan, agar tetap ada ruang belajar dan bertumbuh di dalamnya.

Sehatnya tubuh juga merupakan nikmat yang sering kali diabaikan hingga hilang. Dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang banyak dilalaikan oleh manusia: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 6412)

Karena itu, memohon kesehatan bukan hanya permintaan fisik yang prima, tetapi juga spiritualitas agar dapat beribadah dengan khusyuk, bekerja dengan semangat, serta menjalani hidup tanpa beban berat di tubuh. Sehat adalah modal utama untuk beramal.

Lalu permohonan “berkahilah setiap langkah perjalananku” adalah sebuah keinginan agar semua aktivitas kita kecil atau besar tidak sekadar berjalan, tapi membawa manfaat dan kebaikan yang meluas. Barakah adalah karunia yang menjadikan sesuatu yang sedikit menjadi cukup, dan yang cukup menjadi melimpah.

Dalam Al-Qur’an, Allah menjelaskan tentang keberkahan dengan istilah mubarakan:

هَٰذَا كِتَٰبٌ أَنزَلْنَـٰهُ مُبَارَكٌ
“Ini adalah kitab yang Kami turunkan yang penuh keberkahan.” (QS. Sad: 29)

Bayangkan jika langkah kita, niat kita, pekerjaan kita, rezeki kita, bahkan kesendirian kita, semua diberi keberkahan oleh Allah. Maka hidup tak hanya jadi berarti, tapi juga ringan karena disertai rida Ilahi.

Bagian terakhir dalam doa itu adalah permintaan agar rezeki dilancarkan. Rezeki bukan sekadar uang atau harta. Rezeki bisa berupa waktu, ilmu, anak yang saleh, pasangan yang mendukung, bahkan ketenangan jiwa. Islam tidak pernah mengajarkan untuk bergantung pada materi, tapi juga tidak melarang untuk memintanya.

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa berikut:

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dari-Mu hingga aku tidak membutuhkan yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu hingga aku tidak bergantung pada selain-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 3563, hasan)

Doa ini memperlihatkan bahwa kelapangan rezeki itu penting, tapi yang lebih penting adalah tetap menjaga kehalalan dan ketawakalan. Banyak orang yang hartanya cukup tapi hidupnya sempit, gelisah, dan gundah. Sebaliknya, ada yang secara kasat mata sederhana tapi bahagia dan merasa cukup. Di situlah letak keberkahan.

Keseluruhan doa yang tertera dalam gambar di atas bisa menjadi amalan harian yang kita panjatkan di waktu waktu mustajab: setelah salat, di penghujung malam, atau saat sujud terakhir. Ia mencakup semua aspek penting dalam kehidupan: ujian, kesehatan, keberkahan, dan rezeki. Dan semuanya kembali pada satu sikap utama: bergantung total kepada Allah.

Dalam Islam, ketergantungan kepada Allah bukan bentuk kelemahan, tetapi puncak kekuatan. Ia disebut tawakkal, sebuah konsep yang bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan usaha yang maksimal dengan keyakinan penuh bahwa hasil terbaik datang dari Allah.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًۭا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka sangka. Barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka cukuplah Allah menjadi penolongnya.” (QS. At Thalaq: 2–3)

Ayat ini menjadi pelengkap doa yang kita panjatkan. Karena ujung dari semua harapan itu adalah rida Allah. Maka dalam setiap upaya kita, hendaknya tidak hanya berhenti pada dunia, tapi naik lebih tinggi kepada tujuan yang lebih agung: kehidupan yang penuh makna, dekat dengan Allah, dan berkah dalam segala hal.

Jika hari ini kita merasa berat, maka semoga doa sederhana ini menjadi jembatan ringan menuju jalan keluar. Jika tubuh lemah, semoga Allah beri kekuatan. Jika langkah terasa goyah, semoga Allah mantapkan. Jika rezeki seret, semoga Allah bukakan jalan tak terduga.

Karena pada akhirnya, setiap detik hidup adalah karunia. Dan setiap doa adalah jembatan menuju-Nya. Maka jangan lelah memohon. Jangan ragu meminta. Sebab Allah tidak pernah kehabisan karunia, dan kasih-Nya tak pernah putus di tengah jalan.

Wallahu A‘lam.

Bagikan:

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar

IKLAN BPJS KETENAGAKERJAAN