Menjaga Kemurnian Amal Ibadah

IJW

Iklan

Oleh: Dwi Taufan Hidayat

SETIAP insan beriman tentu mengharapkan agar setiap amal ibadahnya tidak berakhir sia-sia. Apakah itu shalat, puasa, zakat, sedekah, kurban, umrah, atau amalan lainnya semuanya diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Namun, betapa menyedihkan jika di akhirat nanti ternyata seluruh jerih payah ibadah yang dilakukan dengan susah payah justru tidak diterima oleh Allah. Hanya karena satu hal: tidak ikhlas, atau tidak sesuai tuntunan syariat.

Dalam realitas sehari-hari, kita sering kali terjebak dalam rutinitas ibadah yang kehilangan ruh. Kita melakukannya, tetapi tak benar-benar mengerti untuk siapa dan bagaimana seharusnya. Padahal, Allah hanya menerima ibadah yang terpenuhi dua syarat utama: ikhlas karena Allah dan ittiba’, yaitu mengikuti sunnah Nabi Muhammad ﷺ.

Allah Ta’ala berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَآءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat ini dengan sangat jelas. Beliau mengatakan, “فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا” maksudnya adalah amal yang sesuai dengan syariat Allah, yakni mengikuti petunjuk Nabi ﷺ. Sedangkan kalimat “وَلَا يُشْرِكْ”, maksudnya adalah ikhlas semata-mata untuk Allah, tidak berbuat syirik sedikit pun dalam niat, tujuan, maupun pelaksanaan amal ibadah. Maka, dua rukun utama dalam diterimanya amal adalah: ikhlas dan ittiba’.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah, seorang ulama salaf yang sangat wara’, ketika menjelaskan firman Allah:

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Beliau mengatakan, “Ahsan ‘amala” artinya adalah amalan yang paling ikhlas dan paling benar (showab). Artinya, bukan banyaknya amal yang menjadi ukuran utama, tetapi kebaikan amal tersebut dari sisi keikhlasan dan kebenaran pelaksanaannya sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.

Al-Fudhail kemudian menegaskan:
“Jika suatu amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak mencocoki sunnah, maka ia tidak diterima. Jika amal dilakukan sesuai sunnah namun tidak ikhlas, juga tidak diterima. Amal baru diterima jika terkumpul dua hal: ikhlas dan sesuai dengan sunnah.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab)

Inilah realitas yang harus selalu kita sadari. Jangan sampai kita terjebak dalam jerat ibadah yang hanya bersandar pada semangat namun mengabaikan tuntunan, atau sebaliknya, berpegang pada tata cara tapi lupa memperbarui niat.

Ikhlas Karena Allah

Ikhlas adalah ruh dari seluruh ibadah. Tanpa ikhlas, amal yang mulia bisa berubah menjadi sia-sia. Bahkan bisa berubah menjadi riya’ dan dosa. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, bukan semata-mata kita shalat, berzakat, atau berpuasa, tetapi untuk siapa kita melakukannya. Apakah semata-mata karena Allah? Ataukah agar dilihat orang? Atau agar dipuji? Atau karena ingin dihormati?

Allah berfirman:

وَمَا أُمِرُوْا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Ikhlas bukan sekadar mengucap dalam lisan bahwa “semua ini karena Allah”, tetapi menanam dalam hati bahwa tidak ada satu pun tujuan lain selain Allah dalam ibadah kita. Tidak ada pamrih dunia, tidak ada tuntutan balasan sesama, tidak ada kehendak popularitas atau kekuasaan.

Mengikuti Tuntunan Nabi ﷺ

Selain ikhlas, syarat kedua agar amal diterima adalah ittiba’ atau mengikuti contoh Nabi Muhammad ﷺ. Sebab, beliau adalah utusan Allah yang diutus untuk mengajarkan cara beribadah yang benar kepada umat manusia. Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Tidak sah sebuah ibadah jika tidak memiliki dasar dari ajaran Nabi ﷺ. Meskipun tampak bagus dan bernilai, jika tidak dituntunkan dalam agama, maka itu bukan ibadah. Dalam hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang mengada-adakan suatu perkara dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain:

“Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim)

Betapa banyak orang yang rajin ibadah, namun ia tidak mengetahui bahwa caranya telah menyimpang dari apa yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Bisa jadi ia berbuat bid’ah, atau menambahkan sesuatu yang tidak ada tuntunannya. Ia mengira semakin banyak ritual, semakin besar pahalanya. Padahal, tidak semua yang tampak baik secara logika manusia adalah baik dalam timbangan syariat.

Jangan Merasa Cukup Hanya Karena Banyak Amal

Kadang kita merasa bangga dengan banyaknya ibadah yang telah dilakukan: qiyamul lail setiap malam, sedekah rutin tiap Jumat, puasa Senin-Kamis tak pernah terlewat, bahkan telah berhaji atau umrah berkali-kali. Namun, seberapa yakin kita bahwa amal-amal itu telah memenuhi dua syarat utama: ikhlas dan sesuai sunnah?

Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Takutlah kalian terhadap amal yang sia-sia, yaitu amal yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh namun tidak karena Allah dan tidak sesuai sunnah.” (Ma’alim fi Thariq al-‘Ubudiyyah)

Para sahabat Nabi sangat takut jika ibadah mereka tidak diterima. Padahal mereka telah beramal lebih banyak dan lebih ikhlas dibandingkan kita. Mereka menangis bukan karena sedikit amal, tetapi karena khawatir tidak diterima.

Marilah kita memperbaiki niat dan memperdalam ilmu tentang tata cara ibadah yang benar. Jangan asal ibadah. Jangan ikut-ikutan. Jangan hanya berdasarkan kebiasaan atau tradisi. Sebab, ibadah bukanlah sekadar rutinitas, melainkan bentuk ketaatan yang penuh cinta dan rasa takut kepada Allah. Periksa terus: apakah niat ini karena Allah? Apakah cara ini sesuai dengan Rasulullah ﷺ?

Jika dua syarat ini selalu kita jaga ikhlas dan ittiba’ maka insya Allah amal ibadah kita tidak akan menjadi debu yang beterbangan di akhirat. Justru akan menjadi pemberat amal kebaikan dan penolong saat kita paling membutuhkannya.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang selalu memperbaiki amal, menjaga keikhlasan, dan mencocokkan diri dengan sunnah Rasulullah ﷺ. Aamiin.

Bagikan:

Related Post

Tinggalkan komentar

IKLAN BPJS KETENAGAKERJAAN