Skincare Bermerkuri, Vonis Ringan, Sopan Berujung Diskon

IJW

Iklan

Penulis: Dwi Taufan Hidayat

HUKUM seharusnya jadi pagar keadilan, bukan panggung sirkus yang bisa dibeli dengan senyum palsu. Ketika MH, bos skincare bermerkuri, dituntut enam tahun tapi hanya divonis sepuluh bulan “karena sopan”, publik terperangah. Apakah kesopanan lebih berharga dari keselamatan rakyat? Atau hukum kini menjadi etalase diskon bagi mereka yang punya modal citra dan uang?

Dalam potret yang viral ini, tampak MH, sang bos skincare bermerkuri, duduk santai dikelilingi tumpukan uang bak pameran kekayaan dadakan. Senyumnya lebar, gerak tangannya penuh gaya, seakan tidak memikul dosa ribuan kulit yang terbakar akibat produknya. Bersamanya, seorang perempuan lain turut berpose sambil tertawa, seolah semua hanya lelucon ringan.

MH dituntut enam tahun penjara, hukuman yang menurut banyak pihak sudah sangat lunak untuk seorang pengusaha yang merusak kesehatan masyarakat. Namun, entah bagaimana, ia hanya divonis sepuluh bulan. Alasannya sungguh absurd: karena sopan.

Sopan? Definisi baru dari sopan barangkali adalah duduk manis, melipat tangan, tidak menjerit di ruang sidang. Atau mungkin sekadar tidak memaki hakim. Kalau begitu, mari kita ajarkan seluruh maling ayam di desa untuk sopan saat diadili, supaya bisa pulang lebih cepat.

Produk skincare MH terbukti mengandung merkuri, bahan kimia berbahaya yang bisa merusak ginjal, memicu kanker kulit, bahkan mengancam nyawa. Ribuan konsumen tertipu oleh janji “kulit putih kilat” yang ternyata tiket menuju kerusakan seumur hidup. Namun, kerusakan itu ternyata tak semahal harga “sopan” di depan hakim.

Sungguh sinis, ketika hukum kita tumpul ke atas, tajam ke bawah. Para pedagang kecil ditendang keluar dari trotoar, pedagang bakso keliling diburu satpol PP, sementara MH bisa pulang dengan tepuk tangan karena sopan. Kejahatan kesehatan publik dijadikan tontonan, bahkan panggung hiburan.

Publik seakan dipaksa percaya bahwa keadilan itu cukup dengan modal senyum manis. Penjara menjadi hotel transit yang bisa dinegosiasi, selama membawa paket lengkap: citra, uang, dan sopan santun palsu.

Jika kesopanan benar-benar jadi diskon hukuman, jangan salahkan jika ke depan banyak mafia, koruptor, dan penipu berlatih etika berlebihan. Mereka akan datang ke persidangan dengan batik mahal, menunduk khidmat, menangis haru, lalu pulang lebih cepat.

Apakah suara korban sudah tidak ada nilainya? Apakah cermin retak dan kulit yang rusak tidak dianggap bukti nyata kejahatan? Semua tenggelam di lautan narasi “maaf” dan “sopan” yang dijadikan tameng.

MH dan para pendukungnya jelas tahu cara memainkan drama. Dengan tumpukan uang sebagai properti panggung, mereka menjual ilusi kesuksesan dan kehebatan. Mereka ingin publik lupa bahwa uang itu dikumpulkan dari hasil merusak kesehatan orang lain.

Jika diibaratkan teater, MH sudah menjadi aktor utama. Penonton? Kita semua, yang seolah hanya bisa menatap, berkomentar di media sosial, lalu kembali tidur dengan rasa jengkel tak berdaya.

Kesopanan di negeri ini sering dijadikan gincu hukum. Tampak cantik di luar, busuk di dalam. Kejahatan skincare bermerkuri bukan sekadar pelanggaran regulasi BPOM atau UU Perlindungan Konsumen. Ini kejahatan kemanusiaan.

Seharusnya, ruang sidang menjadi altar kebenaran, bukan panggung pencitraan. Tapi sayangnya, MH telah menunjukkan bahwa citra bisa lebih ampuh dari pasal.

Bagi korban, setiap tetes krim merkuri yang dioles adalah mimpi buruk. Bagi MH, setiap tumpukan uang adalah bukti keberhasilan menipu pasar. Ironi yang begitu telanjang, namun dibiarkan berlalu begitu saja.

Ketika hukum tidak lagi memihak kebenaran, tapi justru menyanjung kesopanan palsu, maka kita sedang memupuk generasi yang percaya: “Yang penting gaya, hukum bisa diatur.”

Semoga kita tidak lupa bahwa tumpukan uang di foto itu adalah tumpukan air mata dan harapan yang dikoyak. Kita tidak boleh terbuai oleh sinetron “keadilan” murahan.

Dan semoga, suatu hari nanti, kita tidak perlu lagi mengingat MH sebagai simbol betapa murahnya hukum kita. Kita ingin mengingat hukum sebagai benteng terakhir, bukan sekadar panggung promo potongan masa tahanan bagi para pelaku kejahatan berduit.

Karena sejatinya, keadilan tidak boleh bisa dibeli, ditawar, atau dioles seperti krim pencerah abal-abal.

Bagikan:

Related Post

Tinggalkan komentar

IKLAN BPJS KETENAGAKERJAAN